Posts

Showing posts from 2018

Puisi: the sun still shines

Image
Picture credit:  loundraw Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah dan dibutakan oleh matahari. Langit rasanya tidak pernah secerah ini dalam beberapa minggu terakhir. Jika kau menuduh bahwa duka telah membuat pandanganku kabur, aku akan terpaksa membantah. Ini fakta: langit belum pernah secerah ini sebelumnya. Kau mungkin ingat apa yang sering kukatakan setelah memakai kacamata baru, bagaimana pemandangan di sekelilingku berubah jelas, seolah-olah selama ini aku membuka mata tanpa benar-benar melihat. Bagaimana warna bisa menjadi tajam, seolah-olah ada garis yang ditambahkan untuk memisahkan setiap perubahan gradasi. Kurang lebih, hari seperti itu yang tengah kujumpai. Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah, dan meski aku tidak percaya akuu bisa menemukanmu di atas sana, separuh hatiku berharap. Akhir-akhir ini, semua puisi yang kutulis mengambil kepingan kenangan tentang dirimu, mengisi nostalgia dengan lebih dari sekadar kata rindu. Aku t

Puisi: us, in impermanence

Image
Picture credit:  loundraw Kita bisa mengulang, tapi aku menolak lupa--maka alih-alih berada di garis awal, akan kulanjutkan menjalin benang yang sempat bercabang dan berpisah. Kita bisa mengulang, tapi garis matamu adalah satu yang tak bisa dilupa--maka alih-alih jatuh cinta, yang ada hanya kerinduan akan sesuatu yang pernah kita miliki di suatu masa. Kita bisa mengulang, tapi satu pertanyaan masih tersisa; di antara aku dan dunia, engkau dan mimpi terpendam--mana yang layak untuk dikorbankan? Satu hal jelas: kita tidak akan memilih satu sama lain. Maka biarlah apa yang terjadi, terjadi. Mari melangkah dari titik di mana kita sempat berakhir. Satu hal belum jelas: kemana kita akan melangkah dari titik yang sempat mengakhiri? (Depok, 24 Maret 2018 Eta Wardana) (An absence of labels guarantees a lack of clarity. A lack of clarity guarantees someone is going to get hurt. - Dushka Zapata)

Puisi: for all we know we're together

Image
Image from Zerochan . Empat langkah, empat langkah, empat langkah. Kemudian kita akan melompat dan menumbuhkan sayap dan semua yang dibenci akan tertinggal di belakang. Semua yang tidak ingin mengejar akan tertinggal di belakang. Kau tahu siapa. Aku tahu siapa. Maka di antara kita tidak perlu ada kata. Kau tahu aku akan mengejar. Aku tahu kau akan mengejar. Dan kita sama-sama tahu di antara kita tidak ada yang akan tertinggal. Depok, 12 Januari 2018 Eta Wardana

Puisi: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Image
Image from Zerochan . 2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada bagian i: JANUARI. Hujan. Favorit. Kebingungan. Penghiburan. Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. (Dulu, tidak lagi, bukan satu-satunya sekarang, mengapa berubah?) (Kurasa aku yang berubah.) Bintang jatuh. Bintang mati. Supernova. Lubang hitam. Januari. Ah, Januari. Bahkan dari jarak 78 km, aku bisa merasakan senyummu mengembang. "Selamat ulang tahun!" Kau bilang, serupa seperti satu tahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan tiga minggu setelah kita pertama kali bertemu (Terlalu cepat dekat, bukankah begitu?) Tapi ini kita--kau dan aku. Ini aku. Ini engkau. Ini kita. (Bagaimana sekarang?) Itu aku. Itu engkau. Di mana kita? (Mengapa perlu ditanyakan sekarang?) 2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Puisi: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada

Image
Image from Zerochan . 2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada intro: Writing poems about you is not as easy as forgetting you. (Adi K - Love Unlove Repeat) 2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada (Eta Wardana)