Posts

Showing posts from January, 2018

Puisi: for all we know we're together

Image
Image from Zerochan . Empat langkah, empat langkah, empat langkah. Kemudian kita akan melompat dan menumbuhkan sayap dan semua yang dibenci akan tertinggal di belakang. Semua yang tidak ingin mengejar akan tertinggal di belakang. Kau tahu siapa. Aku tahu siapa. Maka di antara kita tidak perlu ada kata. Kau tahu aku akan mengejar. Aku tahu kau akan mengejar. Dan kita sama-sama tahu di antara kita tidak ada yang akan tertinggal. Depok, 12 Januari 2018 Eta Wardana

Puisi: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Image
Image from Zerochan . 2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada bagian i: JANUARI. Hujan. Favorit. Kebingungan. Penghiburan. Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. (Dulu, tidak lagi, bukan satu-satunya sekarang, mengapa berubah?) (Kurasa aku yang berubah.) Bintang jatuh. Bintang mati. Supernova. Lubang hitam. Januari. Ah, Januari. Bahkan dari jarak 78 km, aku bisa merasakan senyummu mengembang. "Selamat ulang tahun!" Kau bilang, serupa seperti satu tahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan tiga minggu setelah kita pertama kali bertemu (Terlalu cepat dekat, bukankah begitu?) Tapi ini kita--kau dan aku. Ini aku. Ini engkau. Ini kita. (Bagaimana sekarang?) Itu aku. Itu engkau. Di mana kita? (Mengapa perlu ditanyakan sekarang?) 2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Puisi: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada

Image
Image from Zerochan . 2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada intro: Writing poems about you is not as easy as forgetting you. (Adi K - Love Unlove Repeat) 2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada (Eta Wardana)