Di Bawah Kelabu - #2


Musim panas adalah inti dari dirinya, dan dia merapuh di musim dingin. Karena itulah aku ada di sisinya. Karena itulah aku menyebut diriku sebagai kekasihnya. Sebab aku adalah hujan yang menghapus kabut, yang melunturkan salju, yang mengingatkannya bahwa kebekuan bisa mencair. Bahwa setelah musim dingin, seusai musim semi, ia bisa hidup lagi, dan bersinar seperti matahari.

Kami baik-baik saja meskipun hanya berdua. Dia tinggal di sebuah gedung berlantai tiga yang menggunakan lantai dasar sebagai café, lantai dua sebagai studio musik, dan lantai teratas sebagai rumah untuk para pegawai café yang tidak memiliki tempat pulang lain, seperti dirinya. Di lantai tiga, ada sepuluh kamar, satu perpustakaan, dan sebuah ruang kosong yang penuh berisi kanvas dan kaleng cat. Ia menempati kamar yang berdekatan dengan ruang melukis sedangkan aku, yang datang dua tahun setelah ia menjadi penghuni tetap di sana, memilih kamar yang lebih dekat dengan perpustakaan. Selain kami, lantai itu kosong.

Ia tidak pernah diam; selalu tertawa, selalu menyanyi keras-keras, selalu menari seperti orang gila. Ia berlari keluar setiap kali shift-nya usai, tanpa pamit, dan kembali dengan sekantong penuh makanan ringan, lalu mengajakku untuk menghabiskan malam dengan menonton film sambil menikmati snack yang dibelinya. Kami akan menonton di ruang melukis, dengan laptopnya yang menyala diletakkan di atas lantai sementara kami menempatkan diri di atas tikar yang digelar. Dia bergelung dalam selimut, aku duduk bersandar pada dinding. Selalu, sebelum film-nya selesai dimainkan, kami akan tertidur, dan fajar akan menyapa kami dengan sinarnya yang lembut dari celah jendela.

Kami baik-baik saja meskipun hanya berdua. Aku puas dengan berada di sisinya. Dia tidak pernah berkata bahwa dia menganggapku membosankan sebagai seorang teman.


Eta Wardana




Comments

Popular posts from this blog

Terjemahan Lirik: Cesária Évora - Bésame Mucho

Sastra Jepang UI: Tentang Lulus SMA dan Memilih Jurusan

Dr. Romantic: Doctor's Principles and Saving Lives as a Form of Revenge