Posts

Showing posts with the label the universe in ink

Di Bawah Kelabu - #7

Image
Namun jika ia masih bersedia kembali, aku masih di sini. Aku masihlah hujan. Aku masih ingin menjadi kekasihnya. Aku masih ingin menyembunyikan lukanya—mungkin dengan lebih baik lagi, kali lain. Eta Wardana

Di Bawah Kelabu - #6

Image
Berlarilah, berbaliklah, dan lihat betapa banyak kau telah berubah. Masihkah kau mengenali dirimu sendiri saat melihat ke belakang? Aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Aku mengingat diriku, seperti aku mengingat dirinya. Aku tahu saat kami bertemu lagi nanti, mungkin tak ada lagi yang masih sama. Mungkin caranya tertawa telah berubah. Mungkin ia tidak lagi menari seperti orang gila. Mungkin lagu-lagu favoritnya telah berganti genre .  Mungkin ia tidak lagi pernah melukis atau membaca buku. Mungkin ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai kekasihku. Namun aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Meski begitu, aku berharap ia baik-baik saja di masa depan. Eta Wardana

Di Bawah Kelabu - #5

Image
Aku tetap tinggal. Aku tidak pergi. Aku masih di sini. Jadi, bersediakah dia kembali? Aku masih menanti. Bulan berlalu, tapi benakku masih terkurung dalam Januari. Lantai tiga tak lagi sepi; ada beberapa pegawai baru yang memilih tinggal di sana. Mereka semuanya memiliki alasannya tersendiri, tapi tak ada yang sama seperti dia dan aku. Aku berusaha berteman, aku berusaha melupakannya. Namun benakku masih terkurung dalam Januari, dan aku masihlah hujan. Satu-satunya yang ingin kulakukan adalah melindunginya; aku masihlah hujan. Aku adalah hujan, yang menangis karena aku telah begitu lelah bertahan sendirian. Eta Wardana

Di Bawah Kelabu - #4

Image
Ketika ia menghilang, Januari baru saja menjejaki awal bulan. Tiba-tiba aku bangun, dan kamarnya telah kosong. Ia meninggalkan laptopnya, yang penuh berisi lagu-lagu dan film-film favoritnya. Ia meninggalkan buku-bukunya, yang dulu pernah ia rekomendasikan padaku dengan semangat berapi-api.  Ia meninggalkan lukisan yang ia kerjakan selama hampir setahun di ruang melukis, masih belum terselesaikan. Ia meninggalkan banyak hal, tapi tak ada ucapan perpisahan. Dia menghilang, bagai kabut seusai turunnya hujan.  Dia menghilang, dan aku kehilangan alasan untuk menjadi lebih kuat di musim dingin. Pemilik café tempat kami bekerja tidak mengetahui apapun. Ada sepucuk surat pengunduran diri di atas mejanya di pagi hari, dan kunci kamar yang dikembalikan. Tulisan tangannya kaku dan rapuh, kemudian ambruk di akhir, seolah ia tak lagi memiliki kekuatan untuk mengakhiri surat pengunduran dirinya. Seolah sesungguhnya ia tidak ingin pergi. Ketika ia menghilang, aku kehilangan seorang kekasih.

Di Bawah Kelabu - #3

Image
Aku tidak punya masa kecil yang bahagia. Dia juga tidak. Kami tidak pernah saling bercerita tentang masa lalu kami, tidak pernah punya keinginan untuk menyakiti satu sama lain. Kami cukup puas dengan tahu bahwa kami berdua memiliki sesuatu yang sama menyedihkannya hingga harus kami sembunyikan. Memikirkannya kembali, mungkin seharusnya aku bertanya. Mungkin paling tidak aku akan bisa memahami alasannya untuk pergi di kemudian hari. Seperti yang kubilang, dia adalah musim panas. Di musim dingin, jiwanya seolah mati. Dia tidak berlari keluar untuk berbelanja setelah shift -nya berakhir di musin dingin. Dia tidak mengajakku untuk menonton film bersama di musim dingin. Frekuensi tawanya berkurang di musim dingin. Di hari-hari seperti itu, aku akan memberinya kopi dalam gelas plastik di ujung hari. Aku akan memutarkan lagu-lagu penghangat musim dingin di malam hari. Aku akan menggandeng tangannya untuk menikmati langit yang kelabu ketika pagi hadir. Aku adalah hujan, dan aku men

Di Bawah Kelabu - #2

Image
Musim panas adalah inti dari dirinya, dan dia merapuh di musim dingin. Karena itulah aku ada di sisinya. Karena itulah aku menyebut diriku sebagai kekasihnya. Sebab aku adalah hujan yang menghapus kabut, yang melunturkan salju, yang mengingatkannya bahwa kebekuan bisa mencair. Bahwa setelah musim dingin, seusai musim semi, ia bisa hidup lagi, dan bersinar seperti matahari. Kami baik-baik saja meskipun hanya berdua. Dia tinggal di sebuah gedung berlantai tiga yang menggunakan lantai dasar sebagai café, lantai dua sebagai studio musik, dan lantai teratas sebagai rumah untuk para pegawai café yang tidak memiliki tempat pulang lain, seperti dirinya. Di lantai tiga, ada sepuluh kamar, satu perpustakaan, dan sebuah ruang kosong yang penuh berisi kanvas dan kaleng cat. Ia menempati kamar yang berdekatan dengan ruang melukis sedangkan aku, yang datang dua tahun setelah ia menjadi penghuni tetap di sana, memilih kamar yang lebih dekat dengan perpustakaan. Selain kami, lantai itu kosong.

Di Bawah Kelabu - #1

Image
Berlarilah, berbaliklah, dan lihat betapa banyak kau telah berubah. Masihkah kau mengenali dirimu sendiri saat melihat ke belakang?  Aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Karena diriku yang tertinggal di belakang adalah tetaplah aku yang mengharapkan kehadirannya. Aku yang tertinggal di masa lalu adalah aku yang berubah demi dirinya, adalah aku yang akan berubah menjadi diriku yang sekarang. Januari. Kabut yang dipupus oleh hujan. Dan ketika aku membuka mata, dia telah lenyap. Eta Wardana

Yearround #5: May

Image
Seperti kepakan sayap kupu-kupu yang tidak terdengar, aku tidak menyadari kau menghilang. Namun setelah hari ini, tidak ada kita. Dan di antara lembaran kertas yang berserakan di sekitar tempat tidurku, tak ada nama lain terukir. Hanya kekosongan. Kurasa untuk pertama kalinya aku mencintai diriku lebih dari aku mencintai dirimu. Untuk pertama kalinya aku melihat bahwa hidupku bukan tentang dirimu. Separuh 2017 belum terselesaikan saat aku memutuskan bahwa "kita" tidak lagi diperlukan. Separuh 2017 yang lain belum terjamah ketika kau tersenyum dan meninggalkan alamat surelmu di antara tumpukan kertas puisi yang memenuhi meja penghidang dessert di antara kita berdua. Kau berkata, "Aku masih ada di sini jika kau membutuhkan lagi tangan untuk menjadi penopang saat berdiri." Aku berkata, "Terima kasih tapi kau telah mengajariku untuk berdiri sendiri." Dan seperti kepakan sayap kupu-kupu yang tidak terdengar, aku tidak menyadari ada serpihan

Yearround #4: April

Image
Kuraba hening. Kurasa ada yang sesuatu yang tak lagi stagnan. Kurasa antara aku dan engkau, aku lebih berubah. Kurasa antara engkau dan aku, engkau masih sama. Kurasa di antara dua cabang jalan, kita tidak lagi menemukan titik temu. Tidak ada lagi janji dengan secangkir teh. Tidak ada lagi garis tengah di antara tujuh puluh empat kilometer yang membentang. Tidak ada lagi nama yang tersimpan di balik senyuman. Kalimat-kalimat di atas adalah kebohongan. Kau bisa rasakan bahwa aku hanya mengada-ada. Bahwa hanya ada pemaksaan di atas perpisahan yang kita putuskan. Bahwa aku hanya tidak ingin membawa beban, bahwa aku tidak percaya pada kata 'selamanya'. Bahwa aku takut menjadi yang tersakiti jika aku tidak menjadi yang menyakiti. Maafkan. Egois memang. Namun begitulah aku sebelum 2017 berlalu. Begitulah aku sebelum hidupmu dipaksa Tuhan untuk berlalu. Eta Wardana Depok, 01 Agustus 2019

Yearround #3: March

Image
Kurasa di akhir Februari kita telah memutuskan, di sinilah titik waktu pengucapan selamat tinggal. Namun berpura-pura tak memiliki waktu, berpura-pura kita bisa berlanjut, kebisuan melebar hingga satu meter jarak terasa lebih memisahkan dari tujuh puluh empat kilometer yang telah familiar. Hei, Raja, di kemudian tahun aku akan mempertanyakan keputusan kita. Namun kala itu, rasanya tidak ada yang lebih benar selain perpisahan, bukan? Di 2017, bagi kita, tiga tahun telah lebih dari cukup. Selamat tinggal sudah lebih dari cukup. Meninggalkan Februari, menyapa bulan yang berganti. Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada arti untuk mempertahankan ini. Namun di belakang lidah, masih kutahan kata yang seharusnya kita lontarkan. Berpura-pura tak memiliki waktu, berpura-pura kita bisa berlanjut. Bahkan meski tak ada lagi janji bertemu, kau masih mengucapkan selamat malam untukku. Hei, Raja. Bagaimana jika momen itu kembali kita ulang? Eta Wardana Depok, 23 Juli 2019

Yearround #2: February

Image
Aku menyimpan nomormu dalam bentuk kode, melambangkan langit dan pintu yang terbuka ke dimensi lain. Kau tidak tahu, terlalu sopan bahkan untuk menilik layar ponselku. Di antara baris bertuliskan prinsip hidupmu, rasa hormat akan privasi selalu menjadi nomor satu. Kita jarang bertemu, dipisahkan oleh barisan bukit dan jalan sepanjang tujuh puluh empat kilometer. Namun di satu titik di pertengahan perjalanan, kau membuat janji beserta secangkir teh, sebuah pengertian akan ketidakmampuanku meneguk setetespun kopi.  Saat kita duduk berhadap-hadapan, aku tidak pernah menuturkan nama. Ketika kita hanya berdua, aku tahu kau siapa dan kau tidak perlu memanggilku dengan suara. Namun ketika tujuh puluh empat kilometer kembali membentang, dalam kegelapan aku bertanya, "Hei, Raja, berapa lama hingga kita akhirnya harus menutup kisah?" Eta Wardana   Depok, 15 Juli 2019

Yearround #1: January

Image
Namaku ada dua. Semula kau memanggilku dengan satu nama, kemudian tahun berlalu dan di bibirmu namaku telah berganti. Rasanya aneh, seolah-olah kau telah mengenalku lebih lama dari yang sebenarnya. Kau tertawa. Dahi pada dahi, kau bilang, "Mungkin kita memang sudah lama saling mengenal." Aku tidak percaya pada belahan jiwa. Kau tidak percaya hubungan ini akan bertahan lama. Romansa di antara kita adalah sesuatu yang selalu dipertanyakan. Jadi kualihkan pandaganku, tidak mampu untuk ikut tertawa. Tanganku yang meraih tanganmu, sayangnya, berdoa untuk sesuatu yang lebih permanen dari sekadar kenangan. Eta Wardana Sragen, 24 Juni 2018

Puisi: Petrichor, Ketika Hujan Hanya Meninggalkan Jejak Untukku Seorang

Image
Credit picture:  loundraw . Ada seorang gadis yang namanya kutulis berulang-ulang di antara serpihan cermin.  Terkadang dengan tumpahan tinta.  Terkadang dengan tetesan krayon terbakar.  Terkadang dengan sisa air mata. Ada seorang gadis yang namanya tidak bisa berhenti kugumamkan di antara doa.  Terkadang aku mengharapkan kebahagiaan.  Terkadang aku menginginkan sebentuk penerimaan.  Terkadang aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang terluka. Ada seorang gadis yang namanya berusaha kulupa.  Terkadang kuhapus dengan tumpukan pekerjaan.  Terkadang kubuang bersama perjalanan panjang ke belahan lain dunia.  Terkadang kukubur bersama barang-barang yang masih menyimpan aromanya. Ada seorang gadis yang namanya terlalu menyakitkan untuk didengar.  Terkadang tersebut oleh temanku dalam reuni percakapan.  Terkadang mengambang dalam pertanyaan penuh kekhawatiran.  Terkadang didesiskan bersama argumen yang menyuruhku kembali pada rasionalitas. Ada seo

Puisi: the sun still shines

Image
Picture credit:  loundraw Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah dan dibutakan oleh matahari. Langit rasanya tidak pernah secerah ini dalam beberapa minggu terakhir. Jika kau menuduh bahwa duka telah membuat pandanganku kabur, aku akan terpaksa membantah. Ini fakta: langit belum pernah secerah ini sebelumnya. Kau mungkin ingat apa yang sering kukatakan setelah memakai kacamata baru, bagaimana pemandangan di sekelilingku berubah jelas, seolah-olah selama ini aku membuka mata tanpa benar-benar melihat. Bagaimana warna bisa menjadi tajam, seolah-olah ada garis yang ditambahkan untuk memisahkan setiap perubahan gradasi. Kurang lebih, hari seperti itu yang tengah kujumpai. Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah, dan meski aku tidak percaya akuu bisa menemukanmu di atas sana, separuh hatiku berharap. Akhir-akhir ini, semua puisi yang kutulis mengambil kepingan kenangan tentang dirimu, mengisi nostalgia dengan lebih dari sekadar kata rindu. Aku t

Puisi: us, in impermanence

Image
Picture credit:  loundraw Kita bisa mengulang, tapi aku menolak lupa--maka alih-alih berada di garis awal, akan kulanjutkan menjalin benang yang sempat bercabang dan berpisah. Kita bisa mengulang, tapi garis matamu adalah satu yang tak bisa dilupa--maka alih-alih jatuh cinta, yang ada hanya kerinduan akan sesuatu yang pernah kita miliki di suatu masa. Kita bisa mengulang, tapi satu pertanyaan masih tersisa; di antara aku dan dunia, engkau dan mimpi terpendam--mana yang layak untuk dikorbankan? Satu hal jelas: kita tidak akan memilih satu sama lain. Maka biarlah apa yang terjadi, terjadi. Mari melangkah dari titik di mana kita sempat berakhir. Satu hal belum jelas: kemana kita akan melangkah dari titik yang sempat mengakhiri? (Depok, 24 Maret 2018 Eta Wardana) (An absence of labels guarantees a lack of clarity. A lack of clarity guarantees someone is going to get hurt. - Dushka Zapata)

Puisi: for all we know we're together

Image
Image from Zerochan . Empat langkah, empat langkah, empat langkah. Kemudian kita akan melompat dan menumbuhkan sayap dan semua yang dibenci akan tertinggal di belakang. Semua yang tidak ingin mengejar akan tertinggal di belakang. Kau tahu siapa. Aku tahu siapa. Maka di antara kita tidak perlu ada kata. Kau tahu aku akan mengejar. Aku tahu kau akan mengejar. Dan kita sama-sama tahu di antara kita tidak ada yang akan tertinggal. Depok, 12 Januari 2018 Eta Wardana

Puisi: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Image
Image from Zerochan . 2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada bagian i: JANUARI. Hujan. Favorit. Kebingungan. Penghiburan. Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. (Dulu, tidak lagi, bukan satu-satunya sekarang, mengapa berubah?) (Kurasa aku yang berubah.) Bintang jatuh. Bintang mati. Supernova. Lubang hitam. Januari. Ah, Januari. Bahkan dari jarak 78 km, aku bisa merasakan senyummu mengembang. "Selamat ulang tahun!" Kau bilang, serupa seperti satu tahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan tiga minggu setelah kita pertama kali bertemu (Terlalu cepat dekat, bukankah begitu?) Tapi ini kita--kau dan aku. Ini aku. Ini engkau. Ini kita. (Bagaimana sekarang?) Itu aku. Itu engkau. Di mana kita? (Mengapa perlu ditanyakan sekarang?) 2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Puisi: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada

Image
Image from Zerochan . 2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada intro: Writing poems about you is not as easy as forgetting you. (Adi K - Love Unlove Repeat) 2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada (Eta Wardana)

Puisi: brightly dimming you

Image
Image from Zerochan . Aku mengingatmu pada saat bintang jatuh, hanya pada saat bintang jatuh, dan hanya selama bintang itu jatuh. Jika pada malam tak kubuka jendela kamar, tak akan kulihat. Maka aku tak akan mengingatmu, tak akan mengenangmu, tak akan sadar bahwa kau pernah ada. Memoriku, yang datang dan pergi seperti ombak, tetapi kadang terseret jauh ke dalam palung tanpa dasar, tidak memiliki tempat permanen untuk eksistensimu. Kau sebut aku nama. Pandangku 'kan bertanya, "Kau siapa?" Sebab rangkaian tahun telah berlalu tanpa bintang jatuh. Engkau, hanya terwakili lewat kilatan cahaya yang sejenak menghiasi langit berpurnama, telah terlupakan. Bintang jatuh yang lain mungkin tak akan pernah tiba. Eta Wardana Depok. Pertama kali dipublikasikan melalui Line pada 10 September 2017.

Puisi: always a step behind now

Image
Image from Zerochan . Kau bilang, "Lihatlah bintang." Namun langit di sini setengah hari lebih lambat dari langitmu, maka yang bisa kulihat hanyalah masa depan yang tak (belum) bisa kujangkau dan jejak-jejak masa lalu yang entah mengapa menolak untuk pergi. Kau bilang, "Rasakan angin." Namun aku berada puluhan kilometer di bawah permukaan yang kau pijak, maka udara di sini stagnan dan pesan yang kau tiupkan bersama harapan tak (belum) akan sampai. Kau bilang, "Hirup aroma musim gugur." Namun di sini hanya ada tetesan hujan dan guguran daun yang masih kalah jauh dari tumpukan mati helai cokelat di jalanan yang kau susuri, maka aku menutup mata dan berpura-pura bahwa aku berada (jauh) di sampingmu. Kubilang, "Tunggulah tiga, empat tahun." Namun seberapa besar bagian dari diri kita yang telah berubah ketika waktu yang dijanjikan itu tiba? Apakah kita masih bisa memandang bintang dengan memori yang tak menyakitkan nantinya? Apakah k