Posts

Showing posts with the label yearround

Yearround #5: May

Image
Seperti kepakan sayap kupu-kupu yang tidak terdengar, aku tidak menyadari kau menghilang. Namun setelah hari ini, tidak ada kita. Dan di antara lembaran kertas yang berserakan di sekitar tempat tidurku, tak ada nama lain terukir. Hanya kekosongan. Kurasa untuk pertama kalinya aku mencintai diriku lebih dari aku mencintai dirimu. Untuk pertama kalinya aku melihat bahwa hidupku bukan tentang dirimu. Separuh 2017 belum terselesaikan saat aku memutuskan bahwa "kita" tidak lagi diperlukan. Separuh 2017 yang lain belum terjamah ketika kau tersenyum dan meninggalkan alamat surelmu di antara tumpukan kertas puisi yang memenuhi meja penghidang dessert di antara kita berdua. Kau berkata, "Aku masih ada di sini jika kau membutuhkan lagi tangan untuk menjadi penopang saat berdiri." Aku berkata, "Terima kasih tapi kau telah mengajariku untuk berdiri sendiri." Dan seperti kepakan sayap kupu-kupu yang tidak terdengar, aku tidak menyadari ada serpihan

Yearround #4: April

Image
Kuraba hening. Kurasa ada yang sesuatu yang tak lagi stagnan. Kurasa antara aku dan engkau, aku lebih berubah. Kurasa antara engkau dan aku, engkau masih sama. Kurasa di antara dua cabang jalan, kita tidak lagi menemukan titik temu. Tidak ada lagi janji dengan secangkir teh. Tidak ada lagi garis tengah di antara tujuh puluh empat kilometer yang membentang. Tidak ada lagi nama yang tersimpan di balik senyuman. Kalimat-kalimat di atas adalah kebohongan. Kau bisa rasakan bahwa aku hanya mengada-ada. Bahwa hanya ada pemaksaan di atas perpisahan yang kita putuskan. Bahwa aku hanya tidak ingin membawa beban, bahwa aku tidak percaya pada kata 'selamanya'. Bahwa aku takut menjadi yang tersakiti jika aku tidak menjadi yang menyakiti. Maafkan. Egois memang. Namun begitulah aku sebelum 2017 berlalu. Begitulah aku sebelum hidupmu dipaksa Tuhan untuk berlalu. Eta Wardana Depok, 01 Agustus 2019

Yearround #3: March

Image
Kurasa di akhir Februari kita telah memutuskan, di sinilah titik waktu pengucapan selamat tinggal. Namun berpura-pura tak memiliki waktu, berpura-pura kita bisa berlanjut, kebisuan melebar hingga satu meter jarak terasa lebih memisahkan dari tujuh puluh empat kilometer yang telah familiar. Hei, Raja, di kemudian tahun aku akan mempertanyakan keputusan kita. Namun kala itu, rasanya tidak ada yang lebih benar selain perpisahan, bukan? Di 2017, bagi kita, tiga tahun telah lebih dari cukup. Selamat tinggal sudah lebih dari cukup. Meninggalkan Februari, menyapa bulan yang berganti. Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada arti untuk mempertahankan ini. Namun di belakang lidah, masih kutahan kata yang seharusnya kita lontarkan. Berpura-pura tak memiliki waktu, berpura-pura kita bisa berlanjut. Bahkan meski tak ada lagi janji bertemu, kau masih mengucapkan selamat malam untukku. Hei, Raja. Bagaimana jika momen itu kembali kita ulang? Eta Wardana Depok, 23 Juli 2019

Yearround #2: February

Image
Aku menyimpan nomormu dalam bentuk kode, melambangkan langit dan pintu yang terbuka ke dimensi lain. Kau tidak tahu, terlalu sopan bahkan untuk menilik layar ponselku. Di antara baris bertuliskan prinsip hidupmu, rasa hormat akan privasi selalu menjadi nomor satu. Kita jarang bertemu, dipisahkan oleh barisan bukit dan jalan sepanjang tujuh puluh empat kilometer. Namun di satu titik di pertengahan perjalanan, kau membuat janji beserta secangkir teh, sebuah pengertian akan ketidakmampuanku meneguk setetespun kopi.  Saat kita duduk berhadap-hadapan, aku tidak pernah menuturkan nama. Ketika kita hanya berdua, aku tahu kau siapa dan kau tidak perlu memanggilku dengan suara. Namun ketika tujuh puluh empat kilometer kembali membentang, dalam kegelapan aku bertanya, "Hei, Raja, berapa lama hingga kita akhirnya harus menutup kisah?" Eta Wardana   Depok, 15 Juli 2019

Yearround #1: January

Image
Namaku ada dua. Semula kau memanggilku dengan satu nama, kemudian tahun berlalu dan di bibirmu namaku telah berganti. Rasanya aneh, seolah-olah kau telah mengenalku lebih lama dari yang sebenarnya. Kau tertawa. Dahi pada dahi, kau bilang, "Mungkin kita memang sudah lama saling mengenal." Aku tidak percaya pada belahan jiwa. Kau tidak percaya hubungan ini akan bertahan lama. Romansa di antara kita adalah sesuatu yang selalu dipertanyakan. Jadi kualihkan pandaganku, tidak mampu untuk ikut tertawa. Tanganku yang meraih tanganmu, sayangnya, berdoa untuk sesuatu yang lebih permanen dari sekadar kenangan. Eta Wardana Sragen, 24 Juni 2018