Posts

Di Bawah Kelabu - #4

Image
Ketika ia menghilang, Januari baru saja menjejaki awal bulan. Tiba-tiba aku bangun, dan kamarnya telah kosong. Ia meninggalkan laptopnya, yang penuh berisi lagu-lagu dan film-film favoritnya. Ia meninggalkan buku-bukunya, yang dulu pernah ia rekomendasikan padaku dengan semangat berapi-api.  Ia meninggalkan lukisan yang ia kerjakan selama hampir setahun di ruang melukis, masih belum terselesaikan. Ia meninggalkan banyak hal, tapi tak ada ucapan perpisahan. Dia menghilang, bagai kabut seusai turunnya hujan.  Dia menghilang, dan aku kehilangan alasan untuk menjadi lebih kuat di musim dingin. Pemilik café tempat kami bekerja tidak mengetahui apapun. Ada sepucuk surat pengunduran diri di atas mejanya di pagi hari, dan kunci kamar yang dikembalikan. Tulisan tangannya kaku dan rapuh, kemudian ambruk di akhir, seolah ia tak lagi memiliki kekuatan untuk mengakhiri surat pengunduran dirinya. Seolah sesungguhnya ia tidak ingin pergi. Ketika ia menghilang, aku kehilangan seorang kekasih.

Di Bawah Kelabu - #3

Image
Aku tidak punya masa kecil yang bahagia. Dia juga tidak. Kami tidak pernah saling bercerita tentang masa lalu kami, tidak pernah punya keinginan untuk menyakiti satu sama lain. Kami cukup puas dengan tahu bahwa kami berdua memiliki sesuatu yang sama menyedihkannya hingga harus kami sembunyikan. Memikirkannya kembali, mungkin seharusnya aku bertanya. Mungkin paling tidak aku akan bisa memahami alasannya untuk pergi di kemudian hari. Seperti yang kubilang, dia adalah musim panas. Di musim dingin, jiwanya seolah mati. Dia tidak berlari keluar untuk berbelanja setelah shift -nya berakhir di musin dingin. Dia tidak mengajakku untuk menonton film bersama di musim dingin. Frekuensi tawanya berkurang di musim dingin. Di hari-hari seperti itu, aku akan memberinya kopi dalam gelas plastik di ujung hari. Aku akan memutarkan lagu-lagu penghangat musim dingin di malam hari. Aku akan menggandeng tangannya untuk menikmati langit yang kelabu ketika pagi hadir. Aku adalah hujan, dan aku men

Di Bawah Kelabu - #2

Image
Musim panas adalah inti dari dirinya, dan dia merapuh di musim dingin. Karena itulah aku ada di sisinya. Karena itulah aku menyebut diriku sebagai kekasihnya. Sebab aku adalah hujan yang menghapus kabut, yang melunturkan salju, yang mengingatkannya bahwa kebekuan bisa mencair. Bahwa setelah musim dingin, seusai musim semi, ia bisa hidup lagi, dan bersinar seperti matahari. Kami baik-baik saja meskipun hanya berdua. Dia tinggal di sebuah gedung berlantai tiga yang menggunakan lantai dasar sebagai café, lantai dua sebagai studio musik, dan lantai teratas sebagai rumah untuk para pegawai café yang tidak memiliki tempat pulang lain, seperti dirinya. Di lantai tiga, ada sepuluh kamar, satu perpustakaan, dan sebuah ruang kosong yang penuh berisi kanvas dan kaleng cat. Ia menempati kamar yang berdekatan dengan ruang melukis sedangkan aku, yang datang dua tahun setelah ia menjadi penghuni tetap di sana, memilih kamar yang lebih dekat dengan perpustakaan. Selain kami, lantai itu kosong.

Di Bawah Kelabu - #1

Image
Berlarilah, berbaliklah, dan lihat betapa banyak kau telah berubah. Masihkah kau mengenali dirimu sendiri saat melihat ke belakang?  Aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Karena diriku yang tertinggal di belakang adalah tetaplah aku yang mengharapkan kehadirannya. Aku yang tertinggal di masa lalu adalah aku yang berubah demi dirinya, adalah aku yang akan berubah menjadi diriku yang sekarang. Januari. Kabut yang dipupus oleh hujan. Dan ketika aku membuka mata, dia telah lenyap. Eta Wardana

Yearround #5: May

Image
Seperti kepakan sayap kupu-kupu yang tidak terdengar, aku tidak menyadari kau menghilang. Namun setelah hari ini, tidak ada kita. Dan di antara lembaran kertas yang berserakan di sekitar tempat tidurku, tak ada nama lain terukir. Hanya kekosongan. Kurasa untuk pertama kalinya aku mencintai diriku lebih dari aku mencintai dirimu. Untuk pertama kalinya aku melihat bahwa hidupku bukan tentang dirimu. Separuh 2017 belum terselesaikan saat aku memutuskan bahwa "kita" tidak lagi diperlukan. Separuh 2017 yang lain belum terjamah ketika kau tersenyum dan meninggalkan alamat surelmu di antara tumpukan kertas puisi yang memenuhi meja penghidang dessert di antara kita berdua. Kau berkata, "Aku masih ada di sini jika kau membutuhkan lagi tangan untuk menjadi penopang saat berdiri." Aku berkata, "Terima kasih tapi kau telah mengajariku untuk berdiri sendiri." Dan seperti kepakan sayap kupu-kupu yang tidak terdengar, aku tidak menyadari ada serpihan

Yearround #4: April

Image
Kuraba hening. Kurasa ada yang sesuatu yang tak lagi stagnan. Kurasa antara aku dan engkau, aku lebih berubah. Kurasa antara engkau dan aku, engkau masih sama. Kurasa di antara dua cabang jalan, kita tidak lagi menemukan titik temu. Tidak ada lagi janji dengan secangkir teh. Tidak ada lagi garis tengah di antara tujuh puluh empat kilometer yang membentang. Tidak ada lagi nama yang tersimpan di balik senyuman. Kalimat-kalimat di atas adalah kebohongan. Kau bisa rasakan bahwa aku hanya mengada-ada. Bahwa hanya ada pemaksaan di atas perpisahan yang kita putuskan. Bahwa aku hanya tidak ingin membawa beban, bahwa aku tidak percaya pada kata 'selamanya'. Bahwa aku takut menjadi yang tersakiti jika aku tidak menjadi yang menyakiti. Maafkan. Egois memang. Namun begitulah aku sebelum 2017 berlalu. Begitulah aku sebelum hidupmu dipaksa Tuhan untuk berlalu. Eta Wardana Depok, 01 Agustus 2019

Yearround #3: March

Image
Kurasa di akhir Februari kita telah memutuskan, di sinilah titik waktu pengucapan selamat tinggal. Namun berpura-pura tak memiliki waktu, berpura-pura kita bisa berlanjut, kebisuan melebar hingga satu meter jarak terasa lebih memisahkan dari tujuh puluh empat kilometer yang telah familiar. Hei, Raja, di kemudian tahun aku akan mempertanyakan keputusan kita. Namun kala itu, rasanya tidak ada yang lebih benar selain perpisahan, bukan? Di 2017, bagi kita, tiga tahun telah lebih dari cukup. Selamat tinggal sudah lebih dari cukup. Meninggalkan Februari, menyapa bulan yang berganti. Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada arti untuk mempertahankan ini. Namun di belakang lidah, masih kutahan kata yang seharusnya kita lontarkan. Berpura-pura tak memiliki waktu, berpura-pura kita bisa berlanjut. Bahkan meski tak ada lagi janji bertemu, kau masih mengucapkan selamat malam untukku. Hei, Raja. Bagaimana jika momen itu kembali kita ulang? Eta Wardana Depok, 23 Juli 2019

Yearround #2: February

Image
Aku menyimpan nomormu dalam bentuk kode, melambangkan langit dan pintu yang terbuka ke dimensi lain. Kau tidak tahu, terlalu sopan bahkan untuk menilik layar ponselku. Di antara baris bertuliskan prinsip hidupmu, rasa hormat akan privasi selalu menjadi nomor satu. Kita jarang bertemu, dipisahkan oleh barisan bukit dan jalan sepanjang tujuh puluh empat kilometer. Namun di satu titik di pertengahan perjalanan, kau membuat janji beserta secangkir teh, sebuah pengertian akan ketidakmampuanku meneguk setetespun kopi.  Saat kita duduk berhadap-hadapan, aku tidak pernah menuturkan nama. Ketika kita hanya berdua, aku tahu kau siapa dan kau tidak perlu memanggilku dengan suara. Namun ketika tujuh puluh empat kilometer kembali membentang, dalam kegelapan aku bertanya, "Hei, Raja, berapa lama hingga kita akhirnya harus menutup kisah?" Eta Wardana   Depok, 15 Juli 2019

Yearround #1: January

Image
Namaku ada dua. Semula kau memanggilku dengan satu nama, kemudian tahun berlalu dan di bibirmu namaku telah berganti. Rasanya aneh, seolah-olah kau telah mengenalku lebih lama dari yang sebenarnya. Kau tertawa. Dahi pada dahi, kau bilang, "Mungkin kita memang sudah lama saling mengenal." Aku tidak percaya pada belahan jiwa. Kau tidak percaya hubungan ini akan bertahan lama. Romansa di antara kita adalah sesuatu yang selalu dipertanyakan. Jadi kualihkan pandaganku, tidak mampu untuk ikut tertawa. Tanganku yang meraih tanganmu, sayangnya, berdoa untuk sesuatu yang lebih permanen dari sekadar kenangan. Eta Wardana Sragen, 24 Juni 2018

5 Reasons I Still Stay in College

Image
Image by  Pixabay .  My dislike for school started in middle school. I began refusing to go to school. I asked my father to accompany me to school (usually I went by bus alone) but refused to get down from the car after we arrived. I would lock myself inside my bedroom every morning. I throw tantrum and didn't eat anything for days. I didn't study at all. I let my grade drop because I convinced myself that I didn't care, that it didn't mean anything. I also cried a lot alone. In high school, while there were still days when I just didn't want to go to school, it was getting better. But I felt that I had lost some parts of myself since middle school. I stopped writing. I stopped enjoying life. I pretended to be okay while other people around probably could feel that I was not. Now in college, I stopped dreaming. I no longer believe in the future. I, to be honest, am afraid of the future, because I can't see myself there. I can't see myself s

Terjemahan Lirik: Stray Kids - My Pace

Image
Stray Kids - I Am WHO album photo. Below are where you can listen to the song: Spotify Official MV Dance Practice Video Fan Featuring Guide Video Dance Practice (Close Up Ver.) Performance Video Nananananana 아 이게 아닌데 Ada yang salah. Nananananana 그래 이거지 let’s go Yeah, ini dia, ayo! Nananananana 쟤처럼 되고 싶어 부러워 yes I’m 부러워 yes I’m Aku ingin jadi seperti dia, iri, ya, aku merasa iri. 반의반이라도 닮았으면 난 좋겠어 Jika saja aku bisa jadi setengah dari setengahnya, pasti menyenangkan. 우스워 내가 우스워 내가 Sungguh lucu, oh, sungguh lucu. 누군가와 날 비교한다는 게 너무 우스워 Sungguh lucu bagaimana aku membandingkan diri dengan orang lain. 하지 마 하지 마 Hentikan, berhentilah. 그런 비교 따윈 의미 없잖아 Tidak ada artinya mencoba membandingkan. 그러지 마 stop it now Hentikan, hentikan sekarang. 그냥 넌 지금 너의 길을 가면 돼 Kau hanya perlu menempuh jalanmu sendiri. 인정하기 싫지만 Meski tak ingin mengakuinya, 옆을 보게 되잖아 tanpa sadar aku melihat orang-orang di sekelilingku. 앞서간다고 먼저 가는 건 아냐 baby Berada di depan buka