Posts

Ice Princess (2005): Of Pursuing a New Dream, Repairing Connections, and Taking the Wheel for Your Own Lives

Image
Movie poster Ice Princess (2015). Nerdy Casey Carlyle has no dream of her own, but her mother has one. She wants Casey to get into Harvard and become a female scientist, breaking gender norm and proving to other people that girls are not all make up and flirting with boys. But then Casey gets an opportunity to train with Gen, a figure skating athlete who spends her whole life also trying to realize her mother's dream. Both girls are so different, but unexpectedly, they are also a lot more similar than they thought they were.  While Casey falls in love with figure skating and deals with her unsupportive mother, Gen is trying to stand up for herself and making a life of her own--one that doesn't include figure skating. Ice Princess  is a story of how dreams can both connect and break people's relationships. It is a heartfelt movie that tells us the story of friendship, perseverance, and the complicated bond of mother and daughter. I love how relatable the characters are.  Bot

Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day: Gratitude, Positive Thinking, and Surrounding Yourself with Loved Ones

Image
Alexander's family does not believe in bad days. They are convinced that every day has some good in it—all they have to do is to find it. Every night, while having dinner together, each of the family's members will share positive things that happened to them that day. Unfortunately for Alex, he rarely has any to boast about. So on the night of his birthday, he makes a wish upon the candle, praying for his family to experience one terrible, horrible, no good, very bad day. And when morning comes, his wish comes true. Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day is a family comedy movie that I watched in one of my insomnia-filled nights. The story is very light-hearted and uplifting as Alexander's family gives their best effort to support each other even amidst the chaos that Alexander's wish brings upon them. From the baby seemingly ruins the father's job interview, the mother's not-going-according-to-plan company event, the brother getting dumped

Di Bawah Kelabu - #7

Image
Namun jika ia masih bersedia kembali, aku masih di sini. Aku masihlah hujan. Aku masih ingin menjadi kekasihnya. Aku masih ingin menyembunyikan lukanya—mungkin dengan lebih baik lagi, kali lain. Eta Wardana

Di Bawah Kelabu - #6

Image
Berlarilah, berbaliklah, dan lihat betapa banyak kau telah berubah. Masihkah kau mengenali dirimu sendiri saat melihat ke belakang? Aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Aku mengingat diriku, seperti aku mengingat dirinya. Aku tahu saat kami bertemu lagi nanti, mungkin tak ada lagi yang masih sama. Mungkin caranya tertawa telah berubah. Mungkin ia tidak lagi menari seperti orang gila. Mungkin lagu-lagu favoritnya telah berganti genre .  Mungkin ia tidak lagi pernah melukis atau membaca buku. Mungkin ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai kekasihku. Namun aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Meski begitu, aku berharap ia baik-baik saja di masa depan. Eta Wardana

Di Bawah Kelabu - #5

Image
Aku tetap tinggal. Aku tidak pergi. Aku masih di sini. Jadi, bersediakah dia kembali? Aku masih menanti. Bulan berlalu, tapi benakku masih terkurung dalam Januari. Lantai tiga tak lagi sepi; ada beberapa pegawai baru yang memilih tinggal di sana. Mereka semuanya memiliki alasannya tersendiri, tapi tak ada yang sama seperti dia dan aku. Aku berusaha berteman, aku berusaha melupakannya. Namun benakku masih terkurung dalam Januari, dan aku masihlah hujan. Satu-satunya yang ingin kulakukan adalah melindunginya; aku masihlah hujan. Aku adalah hujan, yang menangis karena aku telah begitu lelah bertahan sendirian. Eta Wardana

Di Bawah Kelabu - #4

Image
Ketika ia menghilang, Januari baru saja menjejaki awal bulan. Tiba-tiba aku bangun, dan kamarnya telah kosong. Ia meninggalkan laptopnya, yang penuh berisi lagu-lagu dan film-film favoritnya. Ia meninggalkan buku-bukunya, yang dulu pernah ia rekomendasikan padaku dengan semangat berapi-api.  Ia meninggalkan lukisan yang ia kerjakan selama hampir setahun di ruang melukis, masih belum terselesaikan. Ia meninggalkan banyak hal, tapi tak ada ucapan perpisahan. Dia menghilang, bagai kabut seusai turunnya hujan.  Dia menghilang, dan aku kehilangan alasan untuk menjadi lebih kuat di musim dingin. Pemilik cafĂ© tempat kami bekerja tidak mengetahui apapun. Ada sepucuk surat pengunduran diri di atas mejanya di pagi hari, dan kunci kamar yang dikembalikan. Tulisan tangannya kaku dan rapuh, kemudian ambruk di akhir, seolah ia tak lagi memiliki kekuatan untuk mengakhiri surat pengunduran dirinya. Seolah sesungguhnya ia tidak ingin pergi. Ketika ia menghilang, aku kehilangan seorang kekasih.

Di Bawah Kelabu - #3

Image
Aku tidak punya masa kecil yang bahagia. Dia juga tidak. Kami tidak pernah saling bercerita tentang masa lalu kami, tidak pernah punya keinginan untuk menyakiti satu sama lain. Kami cukup puas dengan tahu bahwa kami berdua memiliki sesuatu yang sama menyedihkannya hingga harus kami sembunyikan. Memikirkannya kembali, mungkin seharusnya aku bertanya. Mungkin paling tidak aku akan bisa memahami alasannya untuk pergi di kemudian hari. Seperti yang kubilang, dia adalah musim panas. Di musim dingin, jiwanya seolah mati. Dia tidak berlari keluar untuk berbelanja setelah shift -nya berakhir di musin dingin. Dia tidak mengajakku untuk menonton film bersama di musim dingin. Frekuensi tawanya berkurang di musim dingin. Di hari-hari seperti itu, aku akan memberinya kopi dalam gelas plastik di ujung hari. Aku akan memutarkan lagu-lagu penghangat musim dingin di malam hari. Aku akan menggandeng tangannya untuk menikmati langit yang kelabu ketika pagi hadir. Aku adalah hujan, dan aku men